Kamis, 16 April 2020

Kontra Produktifnya Kritik terhadap Lagu "Aisyah Istri Rasulullah

Kontra Produktifnya Kritik terhadap Lagu "Aisyah Istri Rasulullah"

Akhir-akhir ini kita disuguhkan lagu Aisyah istri Rasulullah yang trending dan disukai oleh kalangan sobat bucin Radiyallahu'anhum, serta disukai juga oleh santri-santri  mungkin sebagai wujud rasa cintanya kepada Rasulullah, kalangan musisi-musisi juga mengcover lagu tersebut, tidak heran kenapa para musisi mengcover lagu itu alih-alih untuk mensyi'arkan agama, juga digunakan untuk mendongkrak ketenarannya dan mengangkat namanya.

Lagu tersebut dibuat juga melihat bagaimana pasar di Indonesia saat ini menuntut disematkannya embel-embel Agama diberbagai produk yg dihasilkan, apalagi lagu ini dirilis pada saat  pandemi seperti ini sehingga pasti banyak orang yang membutuhkan hiburan dan sebagai contoh bagaimana produk terkenal pasta gigi yaitu Pepsodent mencoba berinovasi membuat pasta gigi dengan sari Siwak, itu semua dilakukan supaya apa? Supaya laku dipasaran, dengan promosi untuk menjaga Sunnah. Pastinya embel-embel itu disematkan untuk menarik perhatian publik, kalau tidak begitu iklan tidak akan laku. 

Munculnya pro dan kontra tentang lagu ini muncul menghiasi dinding sosmed, alasan yang pro menganggap apabila suatu karya muncul harus diapresiasi baik itu mengandung kepentingan atau tidak, dahulu sya'ir dikalangan orang arab memang digunakan sebagai media untuk memuji kebaikan, bisa juga sebagai alat menghina yang sangat manjur, mungkin hal tersebut diterapkan oleh yang membuat lagu ini dan pihak-pihak yang terlibat.

Sedangkan sebagian alasan orang-orang yang kontra adalah kenapa yg dimunculkan dari sisi Sayyidah Aiysah R.A yang romantis-romantis saja? Kan Sayyidah Aisyah R.A juga pernah cemburu dan marah dengan nabi sebagai sifat khas manusiawi, hal-hal yang baik dan mendukung karya itu jelas yang dimunculkan kalau tidak dimunculkan tidak akan laku di pasar, kan mereka mau mendapatkan ketenaran.

Jikalau ingin mengonter atau menandingi suatu karya harusnya lewat karya juga,  sedangkan kalau mau mengritik seharusnya paralel sesuai kaidah-kaidah karya sastra khususnya karya musik. Masak iya mengkritik lewat sejarah, ya jelas tidak nyambung.

Sebenarnya saya termasuk golongan yang kontra dan risih, tetapi nalar saya masih bekerja dan mengatakan bahwa lagu ini karya sastra dan harus dikonter juga dengan karya sastra. Saya pribadi masih berpikir dan terus berpikir apakah saya ini termasuk seseorang yang iri saja karena belum dapat membuat suatu karya sastra yang trending seperti lagu ini. Bagaimana jika kritik kita terhadap lagu tersebut disalurkan untuk berinovasi membuat karya yang lebih bagus lagi, sepertinya hal itu lebih produktif.

Kita sering sekali mendengarkan terhadap apa yang ingin kita dengar saha, melihat terhadap apa yang ingin kita lihat dan membenarkan apa yang ingin kita benarkan saja. Bahkan kata Neitzsche "Kadang-kadang orang tidak ingin mendengar kebenaran karena mereka tidak ingin ilusi mereka dihancurkan."